Publikuj

Block News
Block News
# Melihat Bisnis Minuman dengan Kacamata yang Berbeda: Capital Allocation Dalam video Timothy Ronald Show, Lukmanul Hakim, pengusaha berusia 20 tahun asal Tangerang, menceritakan perjalanan bisnisnya setelah berhasil melunasi utang keluarga Rp90 juta dan mengumpulkan Rp100 juta pertamanya. Lukman menjalankan bisnis minuman kekinian berbahan dasar jagung yang telah berjalan sekitar dua tahun. Kini, usahanya sudah memiliki tiga cabang di Kabupaten Tangerang dengan rata-rata omzet sekitar Rp50 juta per bulan. Produk tersebut bukan sekadar es jagung biasa. Jagung dimodifikasi dengan maizena, susu kental manis, serta berbagai topping seperti keju, Oreo, dan es krim untuk mengikuti tren pasar. Di luar bisnis, Lukman juga memiliki dana darurat Rp50 juta, uang tunai Rp28,5 juta untuk ekspansi, Bitcoin sekitar Rp3,7 juta, dan Ethereum Rp7,2 juta. Kondisi ini membuatnya harus menentukan apakah laba bisnis sebaiknya kembali diputar atau dialihkan ke investasi crypto. Jika dilihat dari sisi capital allocation, jawabannya bergantung pada potensi imbal hasil. Dengan modal sekitar Rp10 juta-Rp15 juta per cabang, ekspansi bisnis masih menawarkan ruang pertumbuhan yang jauh lebih besar. Tiga cabang yang sudah berjalan juga menunjukkan sistem bisnisnya dapat direplikasi. Bahkan, tren produk bisa berubah tanpa harus membangun bisnis dari awal karena operasional cabang tetap dapat digunakan untuk produk minuman lain. Karena itu, selama bisnis masih mampu memberikan pertumbuhan tinggi, laba dinilai lebih efektif digunakan untuk memperbesar bisnis. Investasi ke aset lain baru menjadi pilihan ketika peluang ekspansi mulai terbatas. Pada akhirnya, menjadi pengusaha bukan sekadar soal menghasilkan omzet besar. Tantangan sebenarnya adalah menentukan ke mana setiap rupiah laba harus dialokasikan agar modal yang sama terus menghasilkan pertumbuhan.

Zastrzeżenie: Treść na OKX Orbiter ma charakter wyłącznie informacyjny. Dowiedz się więcej

Odpowiedzi

Brak komentarzy. Bądź pierwszą osobą, która odpowie!